Email Kami cs@rapiya.org
HP / WA 0812 2049 2716
Donasi

VOLUNTEER CLASS : BERBUAT BAIK TIDAK CUKUP SEBATAS RUTINITAS, TETAPI HARUS PROGRESIVITAS

Relawan Pecinta Yatim Dhuafa berfoto usai pelaksanaan Volunteer Class

Markaz Relawan Pecinta Yatim Dhuafa (18/7). Kamis kemarin kembali digelar agenda Volunteer Class yang dilaksanakan oleh Relawan Pecinta Yatim Dhuafa (RAPIYA). Volunteer Class kali ini mengambil tema besar ‘Sambut Usia Emas Indonesia 2045’ dengan didampingi pembicara kang Rijal Muharram., M.Pd yang merupakan seorang aktivis, pegiat pendidikan dan seorang dosen muda di UPI Tasikmalaya.

Agenda Volunteer Class ini diawali dengan sambutan dari Kang Andhika sebagai Presiden RAPIYA. Kang Andhika mengingatkan kepada semua bahwa kondisi kita hari ini adalah akumulasi dari apa yang kita lakukan kemarin dan esok hari merupakan buah dari apa yang kita lakukan hari ini. Oleh karena itu agenda Volunteer Class ini dilaksanakan sebagai sarana peningkatan kapasitas dan soliditas dari Relawan RAPIYA untuk terus dapat berbagi.

Dok. Volunteer Class. Sesi penyampaian materi oleh kang Rijal

Terkadang kita sering berbuat kebaikan, tetapi karena sudah terlalu sering esensi dari berbuat baik itu seakan berkurang dan hanya menjadi rutinitas. Itu sudah baik, memang. Tetapi akan semakin baik ketika perbuatan baik itu menjadi gerakan-gerakan kebaikan sehingga akan menghasilkan manfaat yang jauh lebih besar lagi. Bahasa sederhananya adalah kebaikan itu harus progresif. Jelas kang Rijal ketika menyampaikan materi di agenda Volunteer Class kemarin.

Selanjutnya, kang Rijal melanjutkan penjelasannya mengenai pembagian fase dalam kehidupan manusia. Berdasarkan QS. Ar-Rum ayat 54 yang artinya ‘Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa’.

Dalam ayat tersebut dijelaskan tentang pembagian fase dalam kehidupan manusia, dimulai dari keadaan lemah, kemudian menjadi kuat serta kembali menjadi lemah dan beruban. Berdasarkan ayat ini kang Rijal mengingatkan kepada semua peserta tentang pentingnya posisi ‘kekuatan’ yang berada diantara dua kelemahan. Disanalah terdapat peran seorang pemuda, seorang Relawan yang berfungsi sebagai jembatan atau tulang punggung diantara dua kelemahan tersebut.

Beliau menambahkan, tahun 2035 Indonesia akan sampai di puncak bonus demografi. Yaitu sebuah kondisi saat populasi usia produktif di Indonesia lebih besar dibandinkan populasi usia non produktif. Tidak tanggung-tanggung, beliau menyampaikan bahwa populasi usia produktif sumber daya manusia Indonesia pada saat itu sebesar 70% dan itu merupakan potensi yang begitu besar. Beliau berharap para pemuda untuk tidak hanya mempersiapkan dirinya saja, tetapi harus berbuat bagi lingkungannya. Diantaranya adalah dengan bergabung di dalam organisasi atau komunitas produktif seperti RAPIYA salah satunya.

Selain berbagi wawasan dan pengalaman dari pembicara, dalam agenda Volunteer Class ini juga dilakukan mini workshop pembuatan kurikulum pembinaan adik yatim yang dikelola oleh RAPIYA. Alhamdulillah, workshop tentang kurikulum mengajar adalah hal baru bagi saya, dan ternyata menyusun kurikulum dibutuhkan pertimbangan yang matang. Ilmu baru ini sangat berguna untuk kedepannya, sebut teh Mella Maulida yang merupakan Relawan RAPIYA dan juga salah seorang penulis buku berjudul Perjalanan Peradaban.

Dok. Volunteer Class. Sesi mini workshop pembuatan kurikulum pembinaan adik yatim

Serupa dengan teh Mella, Relawan lainnya bernama kang Deni pun menyampaikan bahwa banyak sekali ilmu yang didapatnya dari agenda Volunteer Class ini. Kang Deni pun mengatakan kurikulum menjadi hal yang wajib diperhatikan dalam proses pembinaan agar semuanya lebih terarah. Terlebih bagi seorang dengan latar belakang non pendidikan memerlukan usaha yang lebih untuk menyelesaikannya.

Dok. Volunteer Class. Sesi pemaparan hasil mini workshop pembuatan kurikulum
Dok. Volunteer Class. Sesi pemaparan hasil mini workshop pembuatan kurikulum

Bukan hanya menambah ilmu bagi peserta, pelaksanaan Volunteer Class diwaktu libur kuliah menjadi kesan tersendiri bagi teh Salma. Saya bersyukur dapat mengikuti agenda ini karena membuat liburan kali ini lebih bermanfaat dan berharap dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat dalam program-progam kebaikan lainnya.

Agenda Volunteer Class kali ini semakin hidup karena selama keberlangsungannya disertai dengan diskusi interkatif sesama peserta maupun dengan pembicara. Peserta lainnya yaitu Teh Elfrida menyampaikan bahwa Volunteer Class ini sangat bermanfaat, selain menambah ilmu dan wawasannya juga terdapat ruang untuk berdiskusi dan berbagi tentang banyak hal. Ia pun berharap RAPIYA tetap mengadakan kegiatan-kegiatan yang seperti ini kembali.

Dok. Volunteer Class. Sesi pemberian cenderamata t-shirt #TetanggaRasul

author_rapiya

VIEW ALL POSTS

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWSLETTER SIGN-UP

Praesent diam massa, interdum quis ex id.